PENGERTIAN MATAN, SANAD, SHAHIH, HASAN, DLA’IF

 


Sebelum masuk ke pembahasan pengertian dari Sanad dan Matan, baiknya kita ketahui apa itu Hadis. Sederhananya, Hadis itu mencakup sanad dan matan, maka semoga pengertian ini dapat membantu kita untuk memahami pengertian dari Sanad & Matan.

 

MATAN

(الْمَتْنُ) مَا رُوِيَ قَوْلًا وَ نُقِلْ

“(Matan) adalah apa yang diriwayatkan berupa ucapan, dan dinukil”.

 

Matan adalah isi hadis yang disampaikan setelah rangkaian sanad, dan menjadi bagian utama yang dinukil dan dijadikan dalil atau pelajaran. Sumber matan bisa dari Rasulullah , para sahabat, atau para tabi’in.

 

SANAD

وَ (السَّنَدُ) الَّذِي لَهُ بِهِ, وُصِلْ

“Dan (Sanad) adalah apa yang dengannya Matan bersambung kepada pengucapnya”.

 

Sanad adalah rangkaian nama-nama orang (perawi) yang meriwayatkan sebuah hadis dari Nabi hingga sampai ke orang terakhir yang meriwayatkannya.

Ada dua Istilah berbeda, yaitu:

الْمُسْنَدُ, (Al-Musnad), yaitu kitab yang menghimpun Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu. Seperti kitab Musnad Ahmad ibn Hanbal, dan masih banyak lagi.

الْمُسْنِدُ, (Al-Musnid), yaitu orang yang meriwayatkan hadis beserta sanadnya, baik dia paham sama ilmunya atau cuman ngeriwayatin doang.

 

SHAHIH

ثُمَّ (الصَّحِيْحُ) عِنْدَهُمْ مَا اتَّصَلَا

بِنَقْلِ عَدْلٍ ضَبْطُهُ قَدْ كَمُلَا

إِلَى النِّهَايَةِ بِلَا تَعْلِيْلِ

وَلَا شُذُوْذٍ, فَاعْنَ بِالتَّحْصِيْلِ

“Kemudian (Shahih) menurut mereka (ahli hadits) adalah yang bersambung sanadnya,

Dengan Naql (periwayatan) dari rawi yang ‘Adl, dan Dlabt-nya sempurna,

Sampai akhir sanad tanpa Ta’līl (cacat tersembunyi)

Dan tidak ada Syudzudz, perhatikanlah dengan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu”.

 

Sebuah hadis dapat dikatakan Shahih jika memenuhi syarat-syarat shahih, yaitu:

  1. Sanadnya bersambung, sanadnya nyambung sampa Nabi atau sahabat atau tabi’in.
  2. Perawinya ‘Adl, yaitu sifat yang mengarahkan orangnya kepada perbuatan Takwa,
  3. Perawinya Dlabt, yaitu kuat hafalannya atau tepat tulisannya.
  4. Tidak ada ‘Illat, yaitu tidak ada sebab tersembunyi yang membuat hadisnya jadi tidak shahih meskipun kelihatannya tidak ada yang cacat.
  5. Tidak Syadz, yaitu hadisnya tidak menyelisihi perawi yang lebih kuat atau menyendiri tanpa penguat.

 

HASAN

وَ (الْحَسَنُ) الَّذِي الشُّرُوْطَ اسْتَوْفَى

إِلَا كَمَالَ الضَّبْطِ, فَهُوَ خَفَّا

“Adapun Hadits (Hasan) adalah yang memenuhi syarat-syarat shahih

Kecuali kesempurnaan Dlabt-nya, maka itu sedikit ringan (kurang)”

Intinya, Hadits Hasan itu memenuhi semua syarat Hadits Shahih, tapi dalam hal Dlabt (kekuatan hafalan atau ketepatan tulisan atau ketelitiannya) di bawah Hadits Shahih, jadi hafalannya kurang kuat lah gitu.

 

DLA’IF

ثُمَّ (الضَّعِيْفُ) مَا بِهِ اخْتِلَالُ

فِى شَرْطٍ أَوْ أَكْثَرَ وَاعْتِلَالُ

“Kemudian, Hadits (Dla’if) adalah Hadits yang memiliki kecacatan

Baik pada satu syarat atau lebih, atau mengandung ‘Illat (cacat tersembunyi)”.

 

Intinya, kalau salah satu syarat Shahih tidak terpenuhi, maka Hadits itu bisa dikatakan Dla’if. Tidak harus semua, cukup satu saja tidak terpenuhi, Haditsnya jadi Dla’if.

 

REFERENSI

Mandhumah fi Mushthalihi man Salaf - Abi Hamid Muhammad ibn Syaikh Abi al-Mahasin al-Fasie (w. 1052 H)

Komentar